Tiga Kampus Paparkan Rancangan Kurikulum Kampus Merdeka untuk Pendidikan Sejarah

Tiga Kampus Paparkan Rancangan Kurikulum Kampus Merdeka untuk Pendidikan Sejarah

Program Studi Pendidikan Sejarah dari tiga kampus memaparkan rancangan kurikulum kampus merdeka pada diskusi daring yang diadakan oleh Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah se-Indonesia (P3SI). Bertepatan dengan peringatan hari Pancasila (01/06/2020) diskusi diikuti oleh 100 peserta perwakilan dari Prodi Pendidikan Sejarah se Indonesia. Kegiatan ini dipandu oleh Dr. Dyah Kumalasari, M.Pd. selaku Sekretaris Jenderal P3SI. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari pertemuan sebelumnya yang juga membahas kurikulum kampus merdeka pada 20/05/2020 lalu.

Secara berurutan tiga kampus yang memaparkan rancangan kurikulumnya adalah Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Negeri Malang (UM), dan Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Dr. Suyitah, M.Pd., M.Hum., selaku Kaprodi Pendidikan Sejarah UNS menyampaikan rancangan kurikulum yang total berjumlah 152 SKS. “Di UNS, jenis mata kuliah tidak banyak berubah, tetapi jumlah SKS ditata. Kami juga menggunakan hasil pertemuan Semarang sebagai dasar pengembangan kurikulum.” Ungkapnya. Lebih lanjut lagi, Sutiyah menyampaikan “konsep merdeka belajar akan dilakukan dengan bedhol praja, yakni bekerja sama dengan perguruan tinggi lain, UNY dan UNNES, yang direncanakan pada semester 6.”

Pada paparan yang kedua, Dr. Ari Sapto, M.Hum. dari Universitas Negeri Malang, menyampaikan konsep yang merupakan penyempurnaan dari kurikulum 2018. Ari Sapto menyampaikan bahwa pengembangan kurikulum di UM secara khusus diarahkan pada pengembangan Kapabilitas, belajar berbasis kehidupan, transdisipliner dan penerapan teknologi informasi dalam pembelajaran. DI UM, beberapa mata kuliah sudah disesuaikan dengan tema-tema tertentu, terutama untuk mata kuliah sejarah kawasan. Tidak lagi hanya Sejarah Eropa saja, tetapi menjadi Nasionalisme di Eropa. “Ada mata kuliah transdisipliner dengan beberapa mata kuliah antara lain: Kolonialisme dan Imperialisme di Asia, Sejarah Publik, Kepurbakalaan Indonesia, Sejarah Kebudayaan Islam, Multikulturalisme dalam Pembelajaran Sejarah, Bahasa Belanda Sumber, Biografi Tokoh Nasional dan Daerah, juga Ipteks dalam Sejarah” tuturnya.

Selanjutnya, Drs. Artono, M.Hum. dari Universitas Negeri Surabaya juga menyampaikan konsep kurikulum merdeka yang tengah dirancang. Sebagaimana konsep kampus merdeka, Prodi Pendidikan Sejarah UNESA juga merancang perkuliahan dengan skema lima semester di prodi, dua semester di lar kampus, dan 1 semester di luar prodi dalam kampus. Rinciannya adalah kuliah di prodi pendidikan sejarah pada semester 1-4. Kemudian, kuliah merdeka belajar di dalam kampus tersedia di semester 5 (total 20 SKS). Lalu, kuliah merdeka kampus di luar Unesa ditempuh pada semester 6 dan 7 (total 40 SKS). Kuliah di semester 6 dan 7 perlu sinergis dengan LP3M Unesa dan LPPM Unesa.

Selain pemaparan dari tiga kampus di atas, kegiatan juga menjaring aspirasi dari peserta yang hadir. Beberapa peserta mengusulkan agar P3SI berperan memberikan panduan yang jelas tentang penerapan kurikulum untuk Prodi Pendidikan Sejarah. Bahkan salah satu peserta mengusulkan adanya mata kuliah yang dirancang Bersama.

Dari kegiatan ini, tim yang diketuai oleh Dr. Agus Mulyana, M.Hum. akan merumuskan beberapa hal yang akan menjadi pokok pemabhasan selanjutnya. Beberapa hal yang dibahas adalah tentang bahan kajian sejarah Indonesia, sejarah tematik, dan juga sejarah kawasan.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

div#stuning-header .dfd-stuning-header-bg-container {background-image: url(https://p3si.org/wp-content/uploads/2017/08/header-background-1-1-1-1-1.png);background-size: initial;background-position: top center;background-attachment: scroll;background-repeat: initial;}#stuning-header div.page-title-inner {min-height: 550px;}