Mengusung Tema “Mengarungi Sejarah Maritim Indonesia”, P3SI dan Pendidikan Sejarah UNIMA gelar Webinar Seri ke- 7

Mengusung Tema “Mengarungi Sejarah Maritim Indonesia”, P3SI dan Pendidikan Sejarah UNIMA gelar Webinar Seri ke- 7

Kamis, 24 Juni 2021 13:00 WIB

Jakarta – Mengkaji sejarah maritim dalam sejarah Indonesia merupakan hal yang menarik dan dinamis, mengusung isu tersebut Perkumpulan Prodi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia kembali hadir dengan sesi webinar di seri ke-7 bekerja sama dengan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Manado (UNIMA) bertajuk “Mengarungi Sejarah Maritim Indonesia “. Dilaksanakan pada kamis (24/6), webinar kali ini mengundang dosen dari berbagai universitas antara lain Dr. Aksilas Dasfordate,S.Pd.,M.Hum (Universitas Negeri Manado), Albert Rumbekwan,S.Pd.,M.Hum (Universitas Cendrawasih). Dan Dr. Bunari, M.Si (Universitas Riau) sebagai pembicara.

Acara ini dipandu oleh Hawiki Renalia mahasiswa Universitas Negeri Malang dengan Moderator Nur Indah Lestari,S.Pd.,M.Pd. dosen Pendidikan Sejarah Universitas Lampung. Sesi webinar diawali laporan Ketua Panitia yakni Syaiful Amin,S.Pd.,M.Pd dosen Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Semarang (UNNES) menginformasikan bahwa kegiatan ini adalah webinar berseri terakhir yang diselenggarakan P3SI untuk semester ini. Kemudian Ketua Umum P3SI Dr. Abdul Syukur,M.Hum memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada panitia yang terpusat beberapa titik di seluruh Indonesia yang melibatkan dosen pendidikan sejarah se-Indonesia yang tergabung dalam Perkumpulan Prodi Pendidikan Sejarah Se-Indonesia (P3SI) atas kerja keras dan semangatnya dalam melaksanakan webinar hingga seri terakhir ini.

Acara webinar dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial UNIMA Dr.Apeles Lexi Lonto,MSi. Dari Bumi Nyiur Melambai Dekan FIS menyapa seluruh peserta webinar yang hadir. Dekan FIS memberikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh panitia penyelenggara webinar, Jurusan Pendidikan Sejarah FIS UNIMA, Ketua P3SI dan Panitia yang terlibat.“Mengutip ungkapan peneliti maritim asal Sulawesi Utara  Prof A.B.Lapian bahwa Indonesia bukan pulau-pulau dikelilingi laut, tetapi laut yang ditaburi pulau-pulau”. Prof Susanto Zuhdi, berpandangan   bahwa   laut  adalah  sumber  atau  pusat   dari  sejarah.  Laut sebagai  pusat  dinamika  perkembangan  peradaban  dan  kebudayaan  manusia karena  di lautlah   sebenarnya   terjalin  pertukaran   komoditas   yang   berupa   barang, termasuk penyebaran  agama, sosial dan budaya”. demikian disampaikan oleh Dekan FIS UNIMA.

Sesi penyampaian materi pertama oleh Dr. Aksilas Dasfordate,S.Pd.,M.Hum. menjelaskan Kepulauan ini awalnya tidak berenguhuni, sehingga penduduk asli tidak ada, ini dilakukan ketika mereka mulai pindah dari daerah-daerah asal mereka datang ke Tanimbar dengan menggunakan perahu-perahu layar yang kemudian  perahu dijadikan “simbol” baik dalam struktur masyarakat, maupun dalam pola perkampungan di Tanimbar hingga sekarang. Perahu yang terdiri dari bagian-bagian, seperti pamaru lunas, gading, taju, semang (cadik), dan lain-lain, biasanya disesuaikan dengan kelompok-kelompok dalam setiap masyarakat di Tanimbar. Jaringan pelayaran yang menghubungkan kepulauan Tanimbar dengan daerah-daerah Indonesia Timur, menurut Coolhaas,  General Misiven.deel III (1655-1674) pertama kali adalah Dari utara pertama kali dilakukan oleh masyarakat di kepualaun Aru, Kei, Banda, Ambon, sampai ke Halmahera.Sedangkan Selatan, mereka berlayar dari kepulauan Babar, Kisar, Luang, Wetar, Tepa, bahkan sampai pulau Timor dan Sulawesi  (Bugis Makassar, dan Buton) Kontak masyarakat Tanimbar dengan orang luar khususnya Bugis Makasar, berlangsung dua abad sebelum para pedagang Belanda.

Pada sesi berikutnya Albert Rumbekwan, S.Pd. M.Hum menyampaikan beberapa fakta sejarah yang berlangsung sejak abad VIII-XIX di Tanah Papua; Keberadaan Orang Biak sebagai orang laut memilik cerita historis yang cukup panjang dalam hal pelayaran di pesisir pantai Utara Papua, yakni telah berlangsung jauh sebelum abab XVI, dimana orang Eropa pertama kali datang di kawasan Maluku dan Kepulauan Raja Ampat. Aktifitas pelayaran dan perdagangan Orang Biak di Teluk Cenderawasih lebih bersifat kekeluargaan atau kolektif kekeluargaan, aktifitas itu dijalankan oleh satu garis keturunan atau keret dari satu kampung tertentu sebagai pemilik pelayaran dan tuan dagang, Pulau Biak dan suku Biak merupakan pionir peradaban baru bagi suku-suku bangsa di Tanah Papua. Pola interaksi sosial melalui perdagangan dan perjumpaan dengan dunia luar, telah membentuk watak dan gaya hidup orang Biak sebagai bangsa pengembara di laut, sehingga dalam pola interaksi orang Biak lebih dulu memberi diri untuk tinggal, bekerja dan beradaptasi di daerah-daerah baru di Papua.

Pemateri terakhir Dr. Bunari,M.Si menyampaikan Pada masa prasejarah kawasan pantai timur sumatera merupakan kawasan yang telah berkembang dari masa pra sejarah hal ini dilihat salah satunya dari sudah adanya unsur-unsur kebudayaan yang telah dimiliki. Merujuk kepada karya dari Tome Pires pada era klasik terdapat sejumlah terras dan reinos di pantai timur Sumatera. Terdapat tiga pusat budaya maritim di bagian timur Sumatera Utara, yakni Beta (Batar), Aru (Daruu) dan Arqat.  Namun berbeda dari Barus ketiga budaya maritim tersebut terletak di pedalaman sungai yang bermuara di pantai timur sumatera. Selain dari tiga hal tersebut perkembangan wilayah timur pantai sumatera juga dipengaruhi oleh hal-hal sebagai berikut: Mundurnya Kerajaan Sriwijaya Semakin berkembangnya wilayah timur didalam bidang perdagangan pada masa tersebut yang disebabkan adanya kedatangan pedagang dari luar  Berkembangnya pusat-pusat perekonomian Tersedianya komoditas yang dicari pada masa tersebut  Pada masa perpindahan pusat maritim oleh Belanda ke wilayah pantai timur Sumatera.  Daerah Medan (Sumatera Utara), Jambi dan Palembang merupakan daerah berpengaruh. Sehingga menghadirkan pusat maritim di Sumatera yang semakin beragam. Disamping dari keberadaan bangsa Eropa perkembangan maritim di pantai timur Sumatera juga dipengaruhi oleh bangsa Cina dan Arab” demikian dia menyampaikan. Materi webinar dapat diunduh di sini (Eka Yuliana).

Your email address will not be published. Required fields are marked *

div#stuning-header .dfd-stuning-header-bg-container {background-image: url(https://p3si.org/wp-content/uploads/2017/08/header-background-1-1-1-1-1.png);background-size: initial;background-position: top center;background-attachment: scroll;background-repeat: initial;}#stuning-header div.page-title-inner {min-height: 550px;}